"Dia Allah Maha Mengetahui Apa Yang Ada di Langit dan apa Yang Ada di Bumi, Dia Allah Mengetahui Apa yang Kamu Nyatakan dan apa yang Kamu sembunyikan dan Dia Allah Mengetahui Apa yang ada di sudut hatimu"

2 Jan 2011

7 TERAPI HASAD

Seorang muslim yang hanif tentulah sadar bahwa penyakit hasad adalah penyakit yang harus diatasi mengingat bahaya yang ditimbulkannya teramat besar. Artikel ini secara singkat berusaha memberikan beberapa kiat untuk mengatasi penyakit hasad tersebut. Semoga bermanfaat
  • Obat yang paling pertama adalah mengakui bahwa hasad itu merupakan sebuah penyakit akut yang harus dihilangkan. Tanpa adanya pengakuan akan hal ini, seorang yang tertimpa penyakit hasad justru akan memelihara sifat hasad yang diidapnya. Dan pengakuan bahwa hasad adalah sebuah penyakit yang berbahaya tidak akan timbul kecuali dengan ilmu agama yang bermanfaat.
  • Ilmu yang bermanfaat, hal ini berarti bahwa seorang yang ingin mengobati hasad yang dideritanya harus memiliki pengetahuan atau ilmu, dan pengetahuan ini terbagi menjadi dua jenis, yaitu secara global dan secara terperinci.
Pertama, secara global, maksudnya dia mengetahui bahwa segala sesuatu telah ditentukan berdasarkan qadha dan qadar-Nya; segala sesuatu yang dikehendaki-Nya akan terjadi dan segala sesuatu yang tidak dikehendaki-Nya, tidak akan terjadi. Demikian pula, dia menanamkan dalam dirinya bahwa rezeki yang telah ditetapkan dan diberikan Allah kepada para hamba-Nya, tidak akan berubah dan tertolak karena ketamakan dan kedengkian seseorang.
Kedua, secara terperinci, yakni dia mengetahui bahwa dengan memiliki sifat hasad, pada hakekatnya dia membiarkan sebuah kotoran berada di mata air keimanan yang dimilikinya, karena hasad merupakan bentuk penentangan terhadap ketetapan dan pembagian Allah kepada para hamba-Nya. Dengan demikian, hasad merupakan tindakan pengkhianatan kepada saudara-Nya sesama muslim dan dapat mewariskan siksa, kesedihan, kegalauan yang berkepanjangan. Demikian pula, hendaklah dia menanamkan kepada dirinya bahwa hasad justru akan membawa berbagai dampak negatif bagi dirinya sendiri, baik di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, orang yang dihasadi justru memperoleh keuntungan berupa limpahan pahala akibat hasad yang dimilikinya [Fatawa Syaikh Jibrin 11/69; Maktabah Asy Syamilah].
Jadi bagaimana bisa seorang berakal membiasakan dirinya untuk dengki (hasad) kepada orang lain?!
Muhammad ibnu Sirin rahimahullah mengatakan,
“Saya tidak pernah dengki kepada orang lain dalam perkara dunia, karena apabila dia ditetapkan sebagai ahli jannah, bagaimana bisa saya mendengkinya dalam perkara dunia, sementara dia berjalan menuju jannah. Sebaliknya, jika dia adalah ahli naar, bagaimana bisa saya dengki kepadanya dalam perkara dunia, sementara dia berjalan menuju naar” [Muktashar Minhajul Qashidin 177].
  • Dengan amal perbuatan yang bermanfaat, yaitu melakukan kebalikan dari perbuatan-perbuatan negatif yang muncul sebagai akibat dari sifat hasad [Fatawa Syaikh Jibrin 11/69; Maktabah Asy Syamilah]. Hal ini diisyaratkan Allah ta’ala dalam firman-Nya,
ادْفَعْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ فَإِذَا الَّذِي بَيْنَكَ وَبَيْنَهُ عَدَاوَةٌ كَأَنَّهُ وَلِيٌّ حَمِيمٌ (٣٤)
Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, Maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara Dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia. (Fushshilat: 34).
Jika sifat hasad mendorongnya untuk mencemarkan dan memfitnah orang yang didengkinya, maka ia harus memaksakan lidahnya untuk memberikan pujian kepada orang tersebut. Jika sifat hasad mendorongya untuk bersikap sombong, maka ia harus memaksa dirinya untuk bersikap tawadhu’ (rendah hati) kepada orang yang didengkinya, memuliakan, dan berbuat baik kepadanya. Jika di kali pertama  dia bisa memaksa dirinya untuk melakukan berbagai hal tersebut, maka insya Allah selanjutnya dia akan terbiasa melakukannya, dan kemudian hal itu menjadi bagian dari karakternya.
  • Meneliti dan menelusuri sebab-sebab yang membuat dirinya menjadi dengki kepada orang lain, kemudian mengobatinya satu-persatu. Misalnya, sifat sombong diobati dengan sifat tawadhu‘ (rendah hati), penyakit haus kedudukan dan jabatan diobati dengan sifat zuhud, sifat tamak (rakus) diobati dengan sifat qana’ah dan berinfak, dst.
  • Di antara obat hasad yang paling mujarab adalah sebagaimana yang telah diterangkan Allah dalam firman-Nya,
وَلا تَتَمَنَّوْا مَا فَضَّلَ اللَّهُ بِهِ بَعْضَكُمْ عَلَى بَعْضٍ لِلرِّجَالِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبُوا وَلِلنِّسَاءِ نَصِيبٌ مِمَّا اكْتَسَبْنَ وَاسْأَلُوا اللَّهَ مِنْ فَضْلِهِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا (٣٢)
“Dan janganlah kamu iri hati terhadap apa yang dikaruniakan Allah kepada sebahagian kamu lebih banyak dari sebahagian yang lain, (karena) bagi orang laki-laki ada bahagian dari pada apa yang mereka usahakan, dan bagi para wanita (pun) ada bahagian dari apa yang mereka usahakan, dan mohonlah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (An Nisa: 32).
Dalam ayat ini, Allah ta’ala melarang hamba-Nya iri (dengki) terhadap rezeki yang berada di tangan orang lain, dan Dia menunjukkan gantinya yang bermanfaat di dunia dan akhirat yaitu dengan memohon karunia-Nya karena hal tersebut terhitung sebagai ibadah dan merupakan perantara agar permintaannya dipenuhi apabila Allah menghendakinya [Fatawasy Syabakah Al Islamiyah 7/278; Maktabah Asy Syamilah].
  • Bersandar kepada Allah, bermunajat serta memohon kepada-Nya agar berkenan mengeluarkan penyakit yang kotor ini dari dalam hatinya.
  • Banyak mengingat mati. Abud Darda radhiallahu ‘anhu mengatakan,
من أكثر ذكر الموت قل فرحه وقل حسده
“Seorang yang memperbanyak mengingat mati, niscaya akan sedikit girangnya dan sedikit pula sifat hasadnya” [Hilyatul Auliya 1/220].
Penulis: Muhammad Nur Ichwan Muslim

19 Des 2010

Mendakwahi Orang Kafir Ataukah Muslim?

Keutamaan Dakwah
Akhil karim, sesungguhnya Allah ta’ala telah memerintahkan untuk berdakwah kepada manusia menuju jalan-Nya. Allah banyak berfirman mengenai hal ini, diantaranya adalah firman-firman-Nya berikut ini,
قُلْ هَذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللَّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَا وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللَّهِ وَمَا أَنَا مِنَ الْمُشْرِكِينَ (١٠٨)
Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujjah yang nyata, Maha suci Allah, dan aku tiada Termasuk orang-orang yang musyrik.” (Yusuf: 108).
ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ (١٢٥)
Serulah (manusia) kepada jalan Rabb-mu dengan hikmah. (An Nahl: 125).
وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلا مِمَّنْ دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ (٣٣)
Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal yang saleh, dan berkata: “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang Islam? (Fushshilat: 33).
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pun bersabda,
بلغوا عني ولو آية
Sampaikanlah dariku walau satu ayat (HR. Bukhari: 3461).
لأن يهدي الله بك رجلا واحد خير لك من حمر النعم
Allah memberi petunjuk kepada satu orang melalui perantaraanmu (yaitu dengan dakwah), itu lebih baik daripada seekor unta merah (HR. Bukhari: 3701).

Faedah
Terdapat faedah yang dapat dipetik dari uraian di atas, yaitu:
  • Berdakwah wajib dilakukan karena Allah dan bertujuan agar manusia menempuh jalan-Nya. Dengan demikian, seorang da’i berdakwah karena mengharap Wajah-Nya, bukan menyeru manusia kepada dirinya, atau untuk mendukung suatu kelompok dan perhimpunan, tidakpula berdakwah karena ingin meraih kepemimpinan, jabatan, harta, popularitas, atau berbagai tujuan lain yang rendah dan fana.
  • Dakwah yang dilakukan adalah dakwah menuju jalan-Nya, yaitu shirathal mustaqim, jalan rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam.
  • Dakwah dilandasi hikmah dan nasihat yang baik, dengan kriteria dakwah yang berlandaskan ilmu, kelembutan, dan kesabaran
sehingga,
Berilmu sebelum memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran
Berlaku lemah lembut selama memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran, dan
Bersabar ketika dan sesudah memerintahkan kebaikan dan melarang kemungkaran
  • Dakwah memiliki keutamaan yang besar karena tidak seorang pun yang memiliki perkataan, kondisi, dan kesudahan yang terbaik, selain orang yang berdakwah kepada Allah ta’ala.
  • Dakwah dilakukan sesuai dengan kadar kemampuan, meski hanya menyampaikan sebuah ayat Al Qur-an, atau menjelaskan sebuah hukum dari suatu permasalahan, atau menyampaikan sebuah sunnah dari berbagai sunnah nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.
Akhil karim, semoga Allah memberikan taufik kepadaku dan dirimu untuk menunaikan kebajikan, apabila anda menginginkan amalan dengan pahala dan ganjaran yang tidak kunjung habis, maka anda harus berdakwah kepada Allah ta’ala, karena nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam telah bersabda,
إن الدال على الخير كفاعله
Sesungguhnya seorang yang menunjukkan kebaikan seperti orang yang melakukannya (dalam hal pahala) [Shahihul Jami': 1605] .
Menjaga Modal
Akhil karim, semoga Allah merahmatiku dan dirimu, salah satu sikap hikmah dalam berdakwah kepada Allah adalah lebih memfokuskan perhatian untuk mendakwahi saudara kita, sesama muslim selain berdakwah kepada orang-orang kafir. Karena mendakwahi orang kafir merupakan laba/untung dan merupakan upaya untuk menambah kuantitas kaum muslimin, sedangkan mendakwahi saudarai kita sesama muslim merupakan upaya untuk menjaga modal. Tentu, seorang pedagang yang sukses akan lebih perhatian untuk menjaga modal baru kemudian berusaha mencari untung.
Jika anda telah memahami hal ini, maka anda dapat mengetahui bahwa yang menjadi kewajiban adalah mengerahkan usaha dalam berdakwah sembari memfokuskan perhatian dalam mendakwahi kaum muslimin, memperbaiki akidah, ibadah, dan akhlak mereka, terlebih di saat ini berbagai penyimpangan dan kesesatan dari segi akidah; bid’ah dalam peribadatan telah masuk ke dalam barisan kaum muslimin. Tidak hanya itu, banyak diantara kaum muslimin memiliki penyimpangan akhlak sehingga terjerumus ke dalam berbagai perbuatan keji dan mungkar seperti terjerumus ke dalam penggunaan narkoba, minuman yang memabukkan, zina, perbuatan durhaka, pemboikotan terhadap sanak keluarga, dan yang selainnya.
Apa yang dipaparkan di atas tidak berarti kita mengenyampingkan dakwah kepada orang-orang kafir, memotivasi mereka untuk masuk Islam dan menjelaskan berbagai keindahan Islam kepada mereka. Bukan demikian, karena mendakwahi orang kafir juga merupakan hal yang urgen. Akan tetapi, yang dimaksud adalah mendakwahi kaum muslimin lebih diprioritaskan, yaitu dengan mengerahkan usaha yang lebih untuk mendakwahi mereka ketimbang usaha untuk mendakwahi orang-orang kafir.
Kemudian, akhil karim, semoga Allah memberkatimu, ketahuilah bahwa sesungguhnya keistiqamahan (konsistensi) kaum muslimin dengan kembali menerapkan ajaran Islam yang shahih dan murni, pada hakekatnya merupakan upaya dakwah kepada orang-orang kafir. Dan sebaliknya, penyimpangan yang dilakukan kaum muslimin, pada hakekatnya merupakan penghalang bagi orang lain untuk berjalan di atas jalan-Nya. Betapa banyak orang kafir yang mengurungkan niat untuk masuk ke dalam Islam karena melihat kondisi kaum muslimin yang memprihatinkan. Dan fakta yang tidak diragukan lagi bahwa sebagian kaum muslimin atau mereka yang tercatat dalam data statistik sebagai orang muslim, adalah mereka yang cuek terhadap Islam dan tidak menampakkan ajaran Islam dalam perikehidupannya kecuali hanya menyandang predikat bahwa dia adalah seorang muslim (Islam KTP).
Di antara mereka (muslim KTP) terdapat pula orang-orang yang melakukan praktek kesyirikan, yaitu pemeluk ajaran kebatinan yang mengultuskan para wali dan orang shalih. Merekalah orang-orang yang menampakkan keislaman, namun menyembunyikan kekufuran. Wajib bagi para da’i untuk menerangkan dan memperingatkan umat akan kondisi mereka, sehingga tidak menjadi penghalang bagi manusia untuk memeluk ajaran Islam dan membuat fitnah di dalam agama ini.
Demikian pula, hal yang patut diperhatikan adalah fokus berdakwah untuk memperbaiki keadaan para da’i dan tokoh masyarakat di setiap waktu dan tempat. Mereka inilah yang menjadi publik figur masyarakat. Jika mereka tidak berada di atas rel istiqamah, tidak komitmen dengan ajaran agama, sementara manusia banyak yang mengikutinya, maka mereka akan merusak banyak orang.
Simpulan
Kesimpulannya adalah berdakwah haruslah dilakukan dengan hikmah, dan salah satu hikmah dalam berdakwah adalah:
  • Lebih memfokuskan perhatian untuk mendakwahi kaum muslimin. Berusaha untuk memperbaiki akidah, ibadah, dan akhlak mereka.
  • Memfokuskan perhatian untuk membimbing dan menasehati sesama da’i dan tokoh masyarakat, sehingga mereka tidak menjadi penyebar kebatilan dengan perilaku mereka yang menyimpang dari ajaran agama.
  • Da’i yang sukses lagi penuh hikmah dalam berdakwah janganlah lalai dari memperingatkan umat akan kondisi ahlul ahwa wal bida’, -pelaku bid’ah yang mengedepankan hawa nafsu- dan mereka yang menjadikan Islam hanya sebagai kamuflase belaka. Seorang da’i berkewajiban melakukan hal tersebut sehingga manusia tidak berkeyakinan bahwa ajaran Islam adalah ajaran yang disebarkan oleh mereka.
  • Kemudian, tidak lupa, da’i patut mendakwahi orang-orang kafir dan menjelaskan keindahan Islam kepada mereka agar setiap da’i mengingat bahwa dakwah wajib dilakukan karena Allah dan  hanya kepada-Nya, bukan kepada kelompok-kelompok tertentu.
والحمد لله أولا وآخرا وصلى الله وسلم على نبينا محمد وعلى آله وصحبه أجمعين
Diterjemahkan dengan beberapa perubahan dari artikel Syaikh Salim ath Thawil, Da’watul Kuffar Ribhun wa Da’watul Muslimin Ra-sul Maal.
Penyusun: Muhammad Nur Ichwan Muslim